Minggu, 01 Februari 2015

Kekuatan Asa dan Doa yang Diijabah

Taraaaa... Thats "Tada Moment" come true. Mencontek kata2 trainer saya dari corporate. Hamdalah kuucap berulang2. Alhamdulillah Ya Allah telah Kau hadiahkan aku come back ke Surabaya yg sangat aku rindukan. Saat ini aku bisa lbh dekat dengan rumahku , tempat kelahiranku dan Ibuku.
Semua ngga gretongan donk. Of course. Kepindahan ini mahal Jendral. Its not a pride yet. Blm jd sebuah kebanggaan balik kesini hanya berbekal track record terakhir. Karena sepanjang qta berkarya .. yang diliat adalah hari ini . Qta bisa bikin apa hari ini. Nggak kemarin. Bukan di tempat lain. NOW n HERE. N u know what.. balik jadi orang baru lagi walaupun sdh lama juga bukan hal yg bsa dilakukan secepat poto kilat atau scepat timer selfie Broh.. I takes time. Apa yang udah kita tinggalin, ketika qta kembali nggak akan pernah sama. G percaya.. coba tinggalin suami lo sebulan aja #talktomarshand*gwnunggubendidepanpengadilan* wkwkk... never be the same again!
Well. Ga perlu drama. Iki Suroboyo Chik. Apapun yang terjadi.. Rawe rawe rantas Malang2 putung. Saya dan teman2 saya di dalam team ini harus berkembang dari hari ke hari menjadi tim - keluarga besar yg saling solid mendukung dan bahu membahu menemukan solusi juga meraih prestasi. Insya Allah. Amin.
One day.. Saya berharap Allah izinkan saya menorehkan tinta emas di sini bersama my big team.
Setelah saya purna tugas kelak.. saya harap saya bisa tersenyum dan membuka lapak seafood ato jadi barista di coffee shop saya yang udah buka cabang puluhan #khayalan&doa .. hahayy..

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Tiada daya upaya yang mustahil dengan ridhoMu Ya Allah.

Minggu, 15 Juni 2014

Surabaya, Asa yang Terpatri Kuat


Surabaya,
Berasa mau nyanyi Kerispatih "Maafkan Kali ini Aku Harus Jujurr...."
Hwah.. Kalau saya menulis ini mungkin saya akan disebut "Mangro Tingal" , mendua.. Semacam cinta terlarang. Saya sedang ada di Semarang. Harusnya nggak lagi mikirin kota ini. Namanya hati Broh.. Hati nggak bisa dibohongin. Kota bersejarah ini seperti sudah mengalir dalam darah. Walau nggak lahir di sini, 3 tahun sudah cukup untuk membuat saya nggak bisa move on . Setiap taman kota yang indah, lalin yang tertib, gaya komunikasi yang "THas Thesss!" , menusuk dari depan, keras tapi ringan, notasi ga mengandung emosi yang dalem yang bikin stroke, pisuhan2 orang Surabaya yang nggak walaupun bolak balik saya dengar pernah menyinggung hati, dan hati2 kuat yang jarang tersinggung, setebel stainless steel, Nggak perlu sakit hati jika "CUK!!!" diperdengarkan . Kalo ga setuju ga usah ngambek, katakan dan nyatakan! Terkesan dengan militansi tiada henti orang2nya yang nggak pernah berhitung2 soal kontribusi mereka, sego goreng porsi heboh plus dadar nya Pak Ewok belakang Vida, Rawon Bungkul yang semua waiternya belajar sempoa, mall di setiap sudut kota , Bebek Mmmmbratang, Bebek Lontar yang fenomenal enaknya, Nasi Goreng Pandegiling dan Cakwenya, Indomie Warkop Tinus depan kantor, semua bisa bikin kangen.. Bahkan Ya Allah, mungkin ini ga masuk di akal. Kalo liat di Youtube Caesar live di Makodam, dan Soimah menggelegar dengan "Surrrabaiaaaah!!!" berasa pengen langsung terbang ke Surabaya.

Surabaya Weew Surabaiaaah!
Maafkan aku masih mencintaimu Kota Pahlawan. Asa yang terpatri kuat di hati ini seolah tak mau pergi. Totalitas di kotaku yang skrg  tak membuat aku lupa padamu. Tak hanya karena di sini nggak ada Indomie Kaldu Ayam, nggak ada Sutos, nggak ada Nasgor yang bisa ngalahin Nasgor Wapo or Pak Ewok, Mie Goreng Pakis Sidorejo, tapi lebih dari itu. Mungkin karakter kotamu dan orang2mu yang lebih "Mashukk Bozz" di jiwaku. 

Lepas dari itu semua, Faktor Birrul Wallidain, keinginan berbakti pada Org Tua. Ibuku sayang, sangat ingin aku di sana. Tempat yang jaraknya paling masuk akal. Surabaya-Jember hanya 4 Jam.  Aku ingin dekat dengan ibuku tanpa memaksanya menikmati kota yang tidak bisa masuk ke hatinya.  Dan menikmati Surabaya itu , absolutely dan naturally gampang. Di sana semuanya ada.
Setiap aku berusaha membunuh asa ini, lalu dia semakin bernyawa dan menyala. Menikmati kekinianku, itu belum cukup ampuh untuk mengalahkan bara di hati bahwa aku ingin kembali ke sana. Setiap selesai acara mudik, naik kereta jurusan Semarang dan jidat nempel di kaca rasanya pengen teriak dan bilang sama masinis, "Jangan Jalan!" . Tapi tentu saja itu terlalu kekanak2an jika dilakukan. Dan Edan.. 

Ya  Allah. Aku bersyukur atas segala yang Kau berikan. Kota ini bisa kuterima, dengan usaha yang sangat keras. Kalkulasi Mu pasti tak sama dengan kalkulasi manusia. Hanya Kau yang mengerti mana yang terbaik bagi hambaMu. Semua pasti ada alasannya. Dan Kau juga pasti tahu mengapa hatiku masih tertinggal di sana. Akan jadi seperti apa. Apakah aku harus tetap memupuk harapan ini. 

Insya Allah, aku ingin bertumbuh, kuat, berbuah dimanapun ditanam. Menjadi manfaat bagi sebanyak insan.  Aku juga ingin berbakti pada Ibundaku. Mana saja yang terbaik bagiku, berikan keridhoan dan ikhlas padaku untuk menerima ketetapanMu.

Surabaya, Asa Itu Masih Ada dan Semakin Bernyawa - 150614

Sabtu, 14 Juni 2014

Secarik Kata Hati Seribu Hari Tuk Ayah

Ayahku,
Apakah kau sedang melihatku?
Aku ingin sejenak jalan2 bersamamu
Bercerita tentang banyak hal
Berbagi apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan

Ayahku,
Bukankah kita selama ini adalah sparing partner yang baik?
Lalu mengapa kau kini tak bisa mendengar suaraku berkisah?
Bukankah kita sahabat yang kompak?
Lalu mengapa kau biarkan aku berjuang tanpamu?
Lalu diskusi-diskusi kita tentang pekerjaanku, keseharianku, jodoh, tetangga kita yang aneh, mengapa tak lagi kau acuhkan?

Iya, Memang
Tak ada yang bisa menyangkal
Engkau telah berpulang
Dan saat itu aku tak di sampingmu
Aku ada di medan perjuangan
Aku mengejar impian yang telah kau gantungkan setinggi langit
Menuntaskan apa yang sudah kumulakan
Tuk membuatmu bangga dan tersenyum

Seribu Hari Lebih,
Kau tak tersenyum padaku di alam nyata
Hanya beberapa kali kau hampiriku di mimpi

Aku dan Bunda rindu Ayah,
Rindu persahabatan kita yang hangat,
Penuh Tawa Riang dan Kejenakaanmu
Kegaranganmu berdiri di depan jika sudah berjuang soal hak
Teriakanmu yang bak Fabio Capello saat menegur anakmu yang salah
Demi sesuatu yang benar
Semangat membaramu sampai di akhir hayat

Ayah,
Apakah Allah sudah bilang padamu,
3 Tahun ini adalah 3 tahun ku dalam pengembaraan
Mulai dari Jawa Barat - Timur - lalu ke Tengah
Aku sudah melewatinya 
Belajar banyak hal
Ternyata ya Yah, kadang2 kita harus melawan kata hati
Kadang harus kejam untuk sesuatu yang benar
Kadang butuh banyak waktu untuk mengkomunikasikan satu hal 
Kadang sahabat itu kita temukan pada wajah-wajah keras dan cadas
Kadang fitnah muncul sebagai tantangan untuk karakter kita
Kadang kebenaran menangnya di belakang hari
Kadang kedzaliman diberi waktu lama 
Untuk runtuh dan luluh lantak 
Maka itu kita harus waspada dan banyak2 mengingat Allah
Seringkali kita harus tahu kata-kata mana yang harus kita simpan
Seringkali kita harus berjibaku untuk sebuah harga diri
Seringkali memanusiakan manusia bukan hal yang sederhana
Seringkali kemudahan Allah ada bersama kesulitan
Seringkali sedekah memudahkan kita secara ajaib

Ayah, 
Sekarang aku ada di Semarang
Kota persinggahanku dulu, 
Saat itu aku masih bertugas di Serpong, dalam perjalanan Jakarta - Jogja
Berbalik arah ke kota ini tuk mencari kereta tercepat,
Mengejar waktu bersamamu di saat2 terakhir,
Namun sayang Kereta Rajawali tak bisa terbang segagah namanya
Hingga aku tak bisa memberangkatkanmu pergi..
Ternyata setelah Tangerang , Bogor, Surabaya, Semarang adalah perhentianku berikutnya.

Ayah, semoga Allah slalu beri ketenangan padamu
Ilmu hidup yang kau ajarkan padaku
Semangat yang kau slalu tiupkan di stiap langkahku
Insya Allah, akan slalu kupegang erat2
Seperti "Balonku Tinggal Empat"
Lagu masa kecilku dulu..
Love u Big Daddy 

~Nina Febriana Tarindyawardani Binti Soetardjo~