Ayahku,
Apakah kau sedang melihatku?
Aku ingin sejenak jalan2 bersamamu
Bercerita tentang banyak hal
Berbagi apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan
Ayahku,
Bukankah kita selama ini adalah sparing partner yang baik?
Lalu mengapa kau kini tak bisa mendengar suaraku berkisah?
Bukankah kita sahabat yang kompak?
Lalu mengapa kau biarkan aku berjuang tanpamu?
Lalu diskusi-diskusi kita tentang pekerjaanku, keseharianku, jodoh, tetangga kita yang aneh, mengapa tak lagi kau acuhkan?
Iya, Memang
Tak ada yang bisa menyangkal
Engkau telah berpulang
Dan saat itu aku tak di sampingmu
Aku ada di medan perjuangan
Aku mengejar impian yang telah kau gantungkan setinggi langit
Menuntaskan apa yang sudah kumulakan
Tuk membuatmu bangga dan tersenyum
Seribu Hari Lebih,
Kau tak tersenyum padaku di alam nyata
Hanya beberapa kali kau hampiriku di mimpi
Aku dan Bunda rindu Ayah,
Rindu persahabatan kita yang hangat,
Penuh Tawa Riang dan Kejenakaanmu
Kegaranganmu berdiri di depan jika sudah berjuang soal hak
Teriakanmu yang bak Fabio Capello saat menegur anakmu yang salah
Demi sesuatu yang benar
Semangat membaramu sampai di akhir hayat
Ayah,
Apakah Allah sudah bilang padamu,
3 Tahun ini adalah 3 tahun ku dalam pengembaraan
Mulai dari Jawa Barat - Timur - lalu ke Tengah
Aku sudah melewatinya
Belajar banyak hal
Ternyata ya Yah, kadang2 kita harus melawan kata hati
Kadang harus kejam untuk sesuatu yang benar
Kadang butuh banyak waktu untuk mengkomunikasikan satu hal
Kadang sahabat itu kita temukan pada wajah-wajah keras dan cadas
Kadang fitnah muncul sebagai tantangan untuk karakter kita
Kadang kebenaran menangnya di belakang hari
Kadang kedzaliman diberi waktu lama
Untuk runtuh dan luluh lantak
Maka itu kita harus waspada dan banyak2 mengingat Allah
Seringkali kita harus tahu kata-kata mana yang harus kita simpan
Seringkali kita harus berjibaku untuk sebuah harga diri
Seringkali memanusiakan manusia bukan hal yang sederhana
Seringkali kemudahan Allah ada bersama kesulitan
Seringkali sedekah memudahkan kita secara ajaib
Ayah,
Sekarang aku ada di Semarang
Kota persinggahanku dulu,
Saat itu aku masih bertugas di Serpong, dalam perjalanan Jakarta - Jogja
Berbalik arah ke kota ini tuk mencari kereta tercepat,
Mengejar waktu bersamamu di saat2 terakhir,
Namun sayang Kereta Rajawali tak bisa terbang segagah namanya
Hingga aku tak bisa memberangkatkanmu pergi..
Ternyata setelah Tangerang , Bogor, Surabaya, Semarang adalah perhentianku berikutnya.
Ayah, semoga Allah slalu beri ketenangan padamu
Ilmu hidup yang kau ajarkan padaku
Semangat yang kau slalu tiupkan di stiap langkahku
Insya Allah, akan slalu kupegang erat2
Seperti "Balonku Tinggal Empat"
Lagu masa kecilku dulu..
Love u Big Daddy
~Nina Febriana Tarindyawardani Binti Soetardjo~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar