Surabaya,
Berasa mau nyanyi Kerispatih "Maafkan Kali ini Aku Harus Jujurr...."
Hwah.. Kalau saya menulis ini mungkin saya akan disebut "Mangro Tingal" , mendua.. Semacam cinta terlarang. Saya sedang ada di Semarang. Harusnya nggak lagi mikirin kota ini. Namanya hati Broh.. Hati nggak bisa dibohongin. Kota bersejarah ini seperti sudah mengalir dalam darah. Walau nggak lahir di sini, 3 tahun sudah cukup untuk membuat saya nggak bisa move on . Setiap taman kota yang indah, lalin yang tertib, gaya komunikasi yang "THas Thesss!" , menusuk dari depan, keras tapi ringan, notasi ga mengandung emosi yang dalem yang bikin stroke, pisuhan2 orang Surabaya yang nggak walaupun bolak balik saya dengar pernah menyinggung hati, dan hati2 kuat yang jarang tersinggung, setebel stainless steel, Nggak perlu sakit hati jika "CUK!!!" diperdengarkan . Kalo ga setuju ga usah ngambek, katakan dan nyatakan! Terkesan dengan militansi tiada henti orang2nya yang nggak pernah berhitung2 soal kontribusi mereka, sego goreng porsi heboh plus dadar nya Pak Ewok belakang Vida, Rawon Bungkul yang semua waiternya belajar sempoa, mall di setiap sudut kota , Bebek Mmmmbratang, Bebek Lontar yang fenomenal enaknya, Nasi Goreng Pandegiling dan Cakwenya, Indomie Warkop Tinus depan kantor, semua bisa bikin kangen.. Bahkan Ya Allah, mungkin ini ga masuk di akal. Kalo liat di Youtube Caesar live di Makodam, dan Soimah menggelegar dengan "Surrrabaiaaaah!!!" berasa pengen langsung terbang ke Surabaya.
Surabaya Weew Surabaiaaah!
Maafkan aku masih mencintaimu Kota Pahlawan. Asa yang terpatri kuat di hati ini seolah tak mau pergi. Totalitas di kotaku yang skrg tak membuat aku lupa padamu. Tak hanya karena di sini nggak ada Indomie Kaldu Ayam, nggak ada Sutos, nggak ada Nasgor yang bisa ngalahin Nasgor Wapo or Pak Ewok, Mie Goreng Pakis Sidorejo, tapi lebih dari itu. Mungkin karakter kotamu dan orang2mu yang lebih "Mashukk Bozz" di jiwaku.
Lepas dari itu semua, Faktor Birrul Wallidain, keinginan berbakti pada Org Tua. Ibuku sayang, sangat ingin aku di sana. Tempat yang jaraknya paling masuk akal. Surabaya-Jember hanya 4 Jam. Aku ingin dekat dengan ibuku tanpa memaksanya menikmati kota yang tidak bisa masuk ke hatinya. Dan menikmati Surabaya itu , absolutely dan naturally gampang. Di sana semuanya ada.
Setiap aku berusaha membunuh asa ini, lalu dia semakin bernyawa dan menyala. Menikmati kekinianku, itu belum cukup ampuh untuk mengalahkan bara di hati bahwa aku ingin kembali ke sana. Setiap selesai acara mudik, naik kereta jurusan Semarang dan jidat nempel di kaca rasanya pengen teriak dan bilang sama masinis, "Jangan Jalan!" . Tapi tentu saja itu terlalu kekanak2an jika dilakukan. Dan Edan..
Ya Allah. Aku bersyukur atas segala yang Kau berikan. Kota ini bisa kuterima, dengan usaha yang sangat keras. Kalkulasi Mu pasti tak sama dengan kalkulasi manusia. Hanya Kau yang mengerti mana yang terbaik bagi hambaMu. Semua pasti ada alasannya. Dan Kau juga pasti tahu mengapa hatiku masih tertinggal di sana. Akan jadi seperti apa. Apakah aku harus tetap memupuk harapan ini.
Insya Allah, aku ingin bertumbuh, kuat, berbuah dimanapun ditanam. Menjadi manfaat bagi sebanyak insan. Aku juga ingin berbakti pada Ibundaku. Mana saja yang terbaik bagiku, berikan keridhoan dan ikhlas padaku untuk menerima ketetapanMu.
Surabaya, Asa Itu Masih Ada dan Semakin Bernyawa - 150614

